RSS

Menggerakkan Jari Telunjuk Saat Tahiyat

25 Jul

Kemarin aku ditanya oleh temenku tentang hukum menggerakkan jari telunjuk saat tahiyat. Saat itu, terus terang aku tidak mempunyai dasar hukum yang jelas. Aku hanya bertumpu pada apa yang diajarkan oleh guruku dulu saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku tidak tahu tentang mengapa, atas dasar apa, dan bagaimana bunyi hadistnya. Apakah menggerakkan telunjuk saat membaca kalimat Laa ilaha illallah dan tidak meletakkan kembali sampai salam (ini yang diajarkan kepadaku dulunya), apakah menggerakkan telunjuk dengan memutar-mutarnya dari awal sampai akhir (aku pernah melihat orang melakukan hal seperti ini), atau apakah hanya menggerakkan telunjuk sekali saja kemudian meletakkannya kembali (aku melihat ini dilakukan oleh orang-orang Timur Tengah). Dan akhirnya aku menanyakan hal ini, sempet kepo juga mencari tahu yang benar yang mana, apakah benar semuanya, apakah ada salah semuanya, hohoho.

Masalah menggerakkan jari telunjuk saat tahiyat di dalam shalat merupakan masalah klasik karena sejak zaman dahulu, para ulama sudah berbeda pendapat, bahkan sampai hari ini. Masalahnya bukan karena para ulama itu hobi berbeda pendapat, bukan karena yang satu lebih shahih dan yang lain kurang shahih, bukan juga karena yang satu lebih mendekat kepada sunnah dan yang lain kurang dekat. Masalahnya sangat jauh dan tidak ada kaitannya dengan semua itu. Titik masalahnya hanya kembali kepada cara memahami naskah hadits, di mana ada dalil yang shahih yang disepakati bersama tentang keshahihannya, namun dipahami dengan cara yang berbeda oleh masing-masing ulama.

Sayangnya, teks hadits itu sendiri memang sangat dimungkinkan untuk dipahami dengan cara yang berbeda-beda. Alias tidak secara spesifik menyebutkannya dengan detail dan rinci. Yang disebutkan hanyalah bahwa Rasulullah s.a.w. menggerakkan jarinya, tetapi apakah dengan teknis terus-terusan dari awal tahiyat hingga selesai, ataukah hanya pada saat mengucapkan ‘illallah’ saja, tidak ada dalil yang secara tegas menyebutkan hal-hal itu.

Beberapa Hadist Terkait

عن وائل بن حجر: أن النبي صلى الله عليه وسلم وضع كفه اليسرى على فخذه وركبته اليسرى, وجعل حد مرفقه الأيمن على فخذه اليمنى, ثم قبض بين أصابعه فحلق حلقة, وفى رواية : حلق بالوسطى والابهام وأشار بالسبابة, ثم رفع اصبعه فرأيته يحركها يدعو

Dari Wail bin Hijr, bahwa Nabi s.a.w. meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya dan lutut kirinya, dan menjadikan batas siku kanannya di atas paha kanannya, lalu menggenggam di antara jari-jarinya sehingga membentuk suatu bundaran. Dalam riwayat lain: Beliau membentuk bundaran dengan jari tengah dan ibu jari, dan memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuknya. Kemudian beliau mengangkat jarinya sehingga aku melihatnya beliau menggerak-gerakkanya sambil membaca doa (H.R. Ahmad)

عن ابن عمر رضي الله عنهما: أن النبي صلى الله عليه وسلم اذا قعد للتشهد وضع يده اليسرى على ركبته واليمنى على اليمنى, وعقد ثلاثا وخمسين وأشار باصبعه السبابة

Dari Ibnu Umar r.a., bahwa Nabi s.a.w. jika duduk untuk tasyahhud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan membentuk angka “lima puluh tiga”, dan memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuknya” (H.R. Muslim).

Yang dimaksud dengan “membentuk angka lima puluh tiga” (dalam tulisan Arab) ialah suatu isyarah dari cara menggenggam jari kelingking, jari manis dan jari tengah disebut angka tiga, dan menjadikan ibu jari berada di atas jari tengah dan di bawah jari telunjuk.

Dengan adanya kedua hadist tersebut, para ulama sepakat bahwa menggerakkan jari di dalam shalat saat tahiyat adalah sunnah. Para ulama yang mengatakan hal itu antara lain adalah Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal serta satu pendapat di dalam mazhab Al-Imam Asy-Syafi’i.

عن ابن الزبير: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يشير باصبعه اذا دعا لا يحركها

Dari Ibnu Zubair, bahwa Nabi s.a.w memberi isyarat (menunjuk) dengan jarinya jika dia berdoa dan tidak menggerakkannya (H.R Abu Daud dengan sanad yang shahih – disebutkan oleh imam Nawawi).

Dengan adanya hadist ketiga tersebut Imam Baihaqi menyatakan bahwa hadits pertama yang menyatakan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan saat tasyahhud kemungkinan maksudnya adalah isyarat (menunjuk), bukan diulang-ulanginya gerakkan, karena cocok dengan hadits ketiga yang menyatakan tidak digerakkannya jari telunjuk tersebut. Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai hal itu.

  1. Sebagian ulama seperti kalangan Mazhab Syafi’i mengatakan bahwa yang dimaksud dengan menggerakan hanyalah sekali saja, yaitu pada kata ‘illallah’. Setelah gerakan sekali itu, jari itu tetap dijulurkan dan tidak dilipat lagi. Demikian sampai usai shalat.
  2. Pendapat Imam Hanafi mengatakan bahwa memberi isyarat (menunjuk) dilakukan saat mengucapkan lafadz nafi (laa illaha), begitu masuk ke kalimat isbat (illallaah) maka jari itu dilipat kembali. Jadi menjulurkan jari adalah isyarat dari nafi dan melipatnya kembali adalah isyarat kalimat itsbat.
  3. Mazhab Maliki juga berpendapat bahwa memberi isyarat dilakukan pada saat mehgucapkan lafadz nafi dan meletakkannya kembali pada saat itsbat, kemudian menggerak-gerakkannya ke kanan dan ke kiri hingga selesai shalat.
  4. Pendapat kalangan Mazhab Hanbali mengatakan bahwa mengerakkan jari pada setiap menyebut isim jalalah atau lafadz Allah selama membaca tasyahud (bukan hanya pada saat membaca syahadatain saja). Hal itu sebagai isyarat tauhid (keesaan Allah). Dan tidak digerak-gerakkannya jari telunjuk itu.
  5. Sebagian lainnya mengatakan bahwa tidak ada ketentuannya, sehingga dilakukan gerakan jari itu sepanjang membaca tasyahhud. Yang terakhir ini juga merupakan pendapat Syeikh Al-Albani, sehingga beliau cenderung mengambil pendapat bahwa menggerakkan jari dilakukan sepanjang membaca lafadz tasyahhud.

Akan tetapi, itu semua adalah ijtihad karena tidak adanya dalil yang secara tegas menyebutkan hal ini, sehingga antara satu ulama dengan ulama lainnya sangat mungkin berbeda pandangan. Selama dalil yang sangat teknis tidak atau belum secara spesifik menegaskannya, maka pintu ijtihad lengkap dengan perbedaannya masih sangat terbuka luas. Dan tidak ada orang yang berhak menyalahkan pendapat orang lain, selama masih di dalam wilayah ijtihad. Pendeknya, yang mana saja yang ingin kita ikuti dari ijtihad itu, semua boleh hukumnya asal semuanya sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad s.a.w.

Wallahu a’lam bishshawab.

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on 25 July 2013 in Diary, Islam

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: