RSS

Traveling to Sweden (2)

Masih di cerita kami traveling ke Swedia. Di part 2 ini saya akan bercerita dari sejak kami menginjakkan kaki di Doha (Qatar), sampai ke Copenhagen (Denmark). Oh iya, bagi yang belum sempat membaca part 1, bisa tengok di sini, hehehe.

Waktu transit selama dua jam di Hamed International Aiport (HIA) kami (saya, suami, dan Mbak Suci) manfaatkan untuk melaksanakan salat dan duduk-duduk di ruang tunggu bandara. Tak terasa memang waktu dua jam. Tiba-tiba saja sudah ada pengumuman bahwa gate untuk penerbangan ke Denmark sudah dibuka. Tepat pukul 01.35 kami dipanggil memasuki pesawat untuk melanjutkan perjalanan ke Kastrup International Airport (CPH), Copenhagen, Denmark.

Durasi perjalanan dari Doha ke Copenhagen adalah sekitar 6 jam 30 menit. Yang menarik adalah, selama total 17,5 jam perjalanan dari Jakarta ke Copenhagen, kami tidak menjumpai matahari, hahaha. Kami berangkat pukul setengah 7 malam dari Jakarta dan dijadwalkan sampai di Copenhagen pukul 7 pagi. Yang kami jumpai di jendela pesawat hanya awan gelap saja. But untungnya, ketika mendekati Copenhagen, kami disuguhi pemandangan matahari terbit yang cukup menawan tepat sebelum mendarat (posisi saya juga sangat menguntungkan karena berada tepat di sebelah jendela). Subhanallah.

Sekitar pukul 7 pagi kami akhirnya sampai di CPH. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk mengurus administrasi imigrasi dan ambil luggages. Waktu yang cukup singkat karena biasanya butuh waktu 1-2 jam. Pagi itu CPH terlihat lengang. Mungkin karena masih pagi kali ya sehingga aktivitas belum berlangsung sebagai mana mestinya.

Untuk melanjutkan perjalanan ke Swedia, kita bisa menggunakan bus atau kereta (bisa juga si pake pesawat, tapi mahal bo hahaha). Kami bertiga sudah memesan tiket Flixbus untuk perjalanan dari CPH ke Jönköping. Kami sudah memesan tiket via online di Indonesia, sehingga sampai di sana sudah tidak perlu lagi buat beli-beli tiket. Kalau mau beli tiket Flixbus bisa di sini atau lewat aplikasi handphone. Disarankan beli dulu ya guys, takutnya keabisan tiket. Oh ya, jangan lupa print tiketnya ya.

Baca Selengkapnya…

 
1 Comment

Posted by on 16 August 2018 in Diary, Swedia, Travelling

 

Tags: , , , , , ,

Traveling to Sweden (1)

3656

Kali ini saya akan bercerita mengenai perjalanan kami (saya dan suami) untuk pertama kalinya ke Eropa, tepatnya ke negeri yg katanya termasuk ke dalam the most innovative country, i.e., Swedia. Traveling kami kali ini bukan untuk berlibur atau temporary visit, tetapi ini untuk jangka yg agak lama. Yap, Alhamdulillah sang suami mendapatkan beasiswa dari Swedish Institute, namanya Swedish Institute Study Scholarships (SISS). Untuk menjadi istri yg sholehah dan berbakti kepada suami, saya membulatkan tekat untuk resign dari pekerjaan yg sudah saya geluti dan mendamping proses studinya.
Oh ya, ini adalah kali pertama saya nulis di blog suami, jadi harap2 maklum yah, kalau gaya menulisnya berbeda dan mgkin belepotan. Maklum baru belajar, hihihi.Di Swedia, suami akan kuliah di Jönköping University (JU), yang terletak di Kota Jönköping (baca: yœnsyœping). Weleh, tulisannya aja susah, kebayang g bacanya lebih susah lagi. Hahaha. JU sangat terkenal dengan internasionalisasi-nya (merupakan kampus dengan international students terbanyak se-Swedia). Bahkan, salah satu fakultas di sana, Jönköping International Business School (JIBS) merupakan: (i) satu-satunya universitas di Eropa yg terakreditasi EQUIS and AACSB; (ii) ranking 1 sebagai entrepreneurship research institution di Eropa dan ranking 2 di dunia tahun 2017; (iii) ranking 1 sebagai research institution dalam Business Studies and Economics se-Swedia tahun 2017! Wow, keren gak? Nah, suami saya kuliahnya di JIBS itu hehehe.

Kota Jönköping terletak di Swedia bagian selatan, meski g selatan-selatan amat. Kota yang terletak di Provinsi Småland ini memiliki danau terbesar kedua di Swedia, yaitu Danau Vättern–sebenarnya di Jönköping banyak danau-danau kecil, bahkan JU sendiri letaknya ada di pinggir danau. Bisa kebayang kan enaknya kuliah dengan lake view, hehehe. Karena letak kota ini yang berada di selatan, suhu atau temperatur kota ini masih sedikit di atas rata-rata kota-kota lainnya di Swedia; jauh kalau dibandingkan dengan yg mendekati lingkar artik utara, seperti Umeå, Luleå, atau bahkan Kiruna.

Akses ke kota ini cukuplah mudah dengan berbagai pilihan penerbangan serta transportasi darat tersedia, so tergantung kondisi dan kantong setiap individu memilih rute yang mana. Rute yang kami pilih kali ini adalah Surakarta-Jakarta-Doha-Copenhagen-Jönköping. Kami berangkat dari Surakarta simply because karena saya berasal dari sana, hahaha. Dua keluarga menghantarkan kepergian kami karena kami akan pergi untuk waktu yg tidak sebentar. Sekitar pukul 11 kami berangkat dari Bandara Internasional Adi Soemarmo dan pukul 12 kami sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng.

Baca Selengkapnya…

 
1 Comment

Posted by on 15 August 2018 in Diary, Swedia, Travelling

 

Tags: , , , , ,

Berpetualang di Pantai Pelabuhan Ratu

pelabuhan ratuLiburan panjang kali ini gw akan bercerita tentang pengalaman gw traveling ke salah satu pantai eksotis nan mistis di pesisir Jawa Barat, yap, Pantai Pelabuhan Ratu. Pantai ini terletak di kecamatan Palabuhan Ratu, yang merupakan ibu kota dari Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Letaknya di Barat Daya Jawa Barat, 60 km dari Kota Sukabumi. Liburan ini gw berencana mengunjungi tempat tinggal adik gw yg bekerja di Indonesia Power di PLTP Kamojang, Sukabumi. Ya, sekalian aja lah ya traveling di salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi ketika kita tiba di Sukabumi.

Untuk sampai di Pantai Pelabuhan Ratu kita bisa naik kendaraan umum, g susah kok untuk sampai ke sana. Kalau dari Bogor (dari terminal Baranang siang), kita bisa naik bus jurusan Pelabuhan Ratu-Bogor. Ada berbagai bus, namun gw lebih suka Bus MGI yang punya dua alternatif: AC dengan tarif Rp 40.000 dan ekonomi (non-AC) dengan tarif Rp 35.000. Durasi perjalanan lumayan lama, yakni 4 jam hehehe.
Kalau dari Terminal Sukabumi, bisa langsung naik Bus MGI arah Pelabuhan Ratu. Dari Jakarta juga ada, semisal dari Kampung Rambutan atau Kalideres, cari aja yang arah Pelabuhan Ratu, kemudian berhenti di pemberhentian terakhir, yakni di Terminal Pelabuhan Ratu. Dari sini, kita bisa naik ojek sampai ke salah satu pantai di sana, semisal Pantai Citepus, yang merupakan pantai paling deket. Ya kasih lah Rp 5.000 atau kalau kasihan ya tambahin dikit. Karena memang g jauh kok dari terminal ke pantainya, tapi ya kalau jalan kaki lumayan pegel hehehe.

Ombak di Pantai Pelabuhan Ratu tergolong keren alias kenceng banget, jadi tidak disarankan untuk berenang di sini. Dan katanya, di sini merupakan basisnya Nyai Roro Kidul, makanya tadi di atas gw bilang pantai beraroma mistis, hehehe. Pantai ini memiliki keindahan panorama yang khas, yakni perpaduan antara pantai yang curam, pantai yang landai, karang yang terjal yang dilatar belakangi cagar alam hutan dan gunung serta sungai yang aliran derasnya dapat digunakan untuk arung jeram. Kecantikan Pantai Pelabuhan Ratu ini sudah dikenal sejak jaman dulu, sampai-sampai Sang Proklamator kemerdekaan RI, Bung Karno menjadi inisiator untuk bangunan hotel mewah yang menjadi ikon Pantai Pelabuhan Ratu yakni hotel Samudera Beach Hotel.
Meskipun objek wisata ini cukup terkenal sampai ke mancanegara berkat keindahan panorama alamnya, namun jalanan ke sini belum cukup baik, jalanannya masih sempit dan ada perbaikan di sana-sini, bahkan ada salah satu ruas jalan yang dilakukan buka-tutup. Tapi tenang saja, katanya tahun 2017 akan ada proyek pembangunan Bandara Sukabumi, wuih, bisa tambah maju aja nih. Iya si, ini memang usaha yang harus dilakukan mengingat banyaknya objek wisata yang ada di wilayah Sukabumi.

Selain Pantai Citepus (Pantai Pelabuhan Ratu), di Sukabumi masih banyak objek wisata berbasis pantai yang wajib dikunjungi (kapan2 lah kalau gw ke Sukabumi lagi hehehe). Ada Pantai Ujung Genteng, yang juga tidak kalah terkenal dari Pantai Pelabuhan Ratu (dengan durasi perjalanan 3 jam dari Pantai Pelabuhan Ratu). Kemudian ada Pantai Karang Hawu yang mempunyai keunikan berupa batu karang yang menyerupai tungku (dalam bahasa Sunda hawu = tungku), dan juga Pantai Cimaja yang jadi primadona buat para surfer. Selain pantai, di kawasan Pelabuhan Ratu juga ada objek wisata lain yang kudu dikunjungi antara lain: Goa Lalay dan Pemandian Air Panas Cisolok.

 
Leave a comment

Posted by on 26 December 2015 in Diary, Travelling

 

Tags: , ,

Jumlah Ayat dalam Alquran

Postingan kali ini gw ambil dari status Facebook (tanpa proses edit) tertanggal 5 Agustus 2015.
Berikut tautan link-nya: https://goo.gl/MRq84C.

ayat
Suatu ketika pas gw numpang tidur di salah satu kos mahasiswa #dosenkere, si doi membanggakan kecepatan internet di situ–gw g usah bilang berapa yes karena bukan kecepatannya yg mau gw bahas, tapi pasword wifi-nya. Passwordnya: 1301146666. Mungkin angka itu terkesan random dan susah diingat. Namun ternyata makna dbalik itu adalah: 1 Alquran 30 juz 114 surat 6666 ayat. Subhanallah. Tapi bukan itu kata pertama gw, melainkan kok 6666? Kan jumlah ayat Alquran bukan 6666. Dia terkejut, dan seperti sudah gw kira banyak orang mengira bahwa jumlah ayat Alquran adalah 6666. But wait, it’s not true. Coba aja buka Alquran, jumlahin semua ayatnya. See, hasilnya bukan 6666 (bisa dilihat di foto).

Then, angka itu dapatnya dari mana? Ada yg bilang jumlahin 1+2+3…+114. Well, kita g bodoh, jumlahnya 6555, tambahin lagi semua bismillah yg ada di permulaan setiap surat kecuali di Surat Attaubah (gw pernah bahas hal ini) dan Alfatihah. Tidak 6666 juga. Ada juga blog yg menuliskan “selisih” (6666-6236 = 430) yg ada adalah penjumlahan dari nama Nabi Muhammad (mim huruf ke-24: surat ke-24 jumlah ayatnya 64, ha: 6 dan 165, mim: 24 dan 64; dan dal: 8 dan 75). Kalau dijumlah 430. Wow, kebetulan yang kereeen. =_=#maumandipakeoli

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Tentang jumlah ayat al-Quran ada 6000 ayat. Kemudian ulama berbeda pendapat yang lebih dari angka itu. Diantara mereka berpendapat, tidak lebih dari 6 ribu ayat. Ada yang mengatakan, 6204 ayat. Ada yang mengatakan, 6014 ayat. Ada juga yang mengatakan, 6219 ayat. Ada yang mengatakan, 6225 atau 6226 ayat. Dan ada yang mengatakan, 6236 ayat. Pendapat terakhir ini disampaikan oleh Abu Amr ad-Dani dalam kitab al-Bayan.”

Loh loh loh kok bisa beda2 gmana ini, apa Alquran beda2 versinya? kok bisa g sama si. Santai bro, santai.
Ingat bahwa Alquran tidak diturunkan dalam bentuk gelondongan. Tapi berangsur-angsur dan TIDAK TERTULIS. Rasulullah seseorang yg buta huruf. Beliau mambacakan ulang apa yg “diajarkan kepadanya” kepada shahabatnya. Terkadang diriwayatkan Beliau berhenti membaca dan menarik nafas. Pada saat itu timbul asumsi di situlah ayat itu berhenti dan habis. Sementara yang lain berpandangan bahwa Beliau hanya sekedar berhenti menarik nafas dan tidak ada kaitannya dengan berhentinya suatu ayat. Rasulullah tidak jarang tidak menjelaskan kenapa menarik nafas dan berhenti, apakah menunjukkan penggalan ayat, atau hanya semata-mata menarik nafas karena ayatnya panjang.

Contohlah gini, dalam QS 6:73

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ وَيَوْمَ يَقُولُ كُنْ فَيَكُونُ قَوْلُهُ الْحَقُّ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

Kata كُنْ فَيَكُونُ muncul 8 kali dalam Alquran dan semuanya (kecuali ayat ini) merupakan akhir ayat. Tafsir-e-Fazli kemudian menyatakan kalau ayat ini dipecah di kata ini sehingga ada dua ayat. Hal yg sama juga berlaku pada QS 4:173 di mana ayat dipecah pada kata عَذَابًا أَلِيمًا.
Beberapa “variasi” lain juga banyak dan tak elok kalau semua gw kasih di sini.

Tapi itu semua tidak menjawab pertanyaan dari mana muncul angka 6666? Ibnu Huzaim dalam buku “An Nasih wa’l Mansuh” menyatakan bahwa Alquran terdiri dari 1000 ayat tentang wa’ad; 1000 ayat tentang wa’id; 1000 ayat tentang amr; 1000 ayat tentang nahy; 1000 ayat tentang informasi dan kisah-kisah; 1000 ayat tentang larangan dan contoh; 500 ayat tentang kekuasaan; 100 ayat tentang doa dan memuliakan; dan 66 ayat nasih and mansuh. Namun jujur, gw agak sangsi dengan “indahnya” angka ini. Harus diverifikasi lagi kah? G tahu ah gw bukan ahli tafsir. Sementara anggap 6666 berasal dari sini (atau kalau ada yg tahu dari mana sumber angka 6666 itu sila gw dikasih tahu).

Intinya gw mau ngasih tahu bahwa … apa ya, gw juga bingung ama status kali ini. Gw g bilang gini loh ya, angka 6666 itu rekayasa kaum zionis (apa pula yg dimaksud dengan ini) yg ingin memecah belah umat Islam karena itu adalah bilangan setan. Oh please,,, mau main cocok2an lagi? Sini, gw bisa kok main itung2an, mau pake sempoa atau kalkulator?

*MU

 
1 Comment

Posted by on 5 August 2015 in Diary, Islam

 

Tags: , ,

Silaturahmi vs. Silaturahim

Postingan kali ini gw ambil dari status Facebook (tanpa proses edit) tertanggal 21 Juli 2015.
Berikut tautan link-nya: https://goo.gl/8Tlaj9.

10671243_10206256172834607_3709077301395446084_n

Ketika halal-bi-halal keluarga yg lalu, saudara MC berkata seperti ini, “…menyambung sila…turahim, hampir salah ucap dengan silaturahmi. Jangan sampe salah ya…” spontan gw dicolek sebelah gw, “Mas emang yg bener mana, silaturahim apa silaturahmi?” Gw jawab, “Bener semua, tapi kalau menurut kaidah bahasa Indonesia yg benar, yang tepat adalah SILATURAHMI.” Yang nanya juga g bego, “Lha mas aku pernah baca katanya rahmi artinya rasa sakit yg dirasakan ibu-ibu sebelum melahirkan.”

Iya, ia tidak salah. Kalau kita googling mengenai apa yg benar, silaturahim atau silaturahmi, maka banyak blog2 yg menuliskan yg benar adalah silaturaHIM karena ditinjau dari bahasa Arab yg artinya menyambungkan kekerabatan (silah artinya menyambung dan rahim artinya kekerabatan), sedangkan silaturaHMI salah karena rahmi artinya seperti sudah dikatakan yg nyolek gw di atas. Bahkan lebay-nya ada tambahan seperti ini, “Makanya, tidak heran ya sob, kalau bnyak orang saling menyakiti karena selama ini pun salah menggunakan istilah silaturahmi.” WHAAAAT logika macam apa itu. Banyak yg saling menyakiti gara2 salah pakai istilah rahmi yg artinya rasa sakit/nyeri.#hanyageleng2kepala.

Begini sob, gw mau bahas hal sepele ini tapi gw g meninjau pake hadist dari Abu Hurairah atau pun dari kitab2 macam shahih/sunan Bukhori, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi (ada bab ttg ini). However, gw mau meninjau dari istilah etimologi dan serapannya dalam bahasa Indonesia. Jadi maaf kalau bahasan kali ini agak panjang.
Dalam KBBI, bisa dilihat kalau kata yg baku adalah SILATURAHMI, yang artinya tali persahabatan (persaudaraan). Apakah KBBI salah? si ahli bahasa Indonesia g tahu bahasa Arab? kurang paham ilmu agama? Weleh2 jangan buru2 dulu sob.

Dilihat dari sumber bahasanya, jelas kedua kata itu dari bahasa Arab: صلة الرحم. Dalam kamus Alkalali (hal. 469) (as)shilatu berarti sambungan dan (ar)rohmu (hal. 432) berarti rahim (peranakan) dan jamaknya (al)arhaam. Sumber berikutnya: Dalam kamus Almunawir (hal. 518-519), Mahmud Yunus (hal. 139), dan An-Nur (hal. 69) terdapat kata (1) rohima-(y)arhamu-rohmat(an) yang berarti mengasihi, menaruh kasihan; (2) rohim(un) dan jamaknya arhaam yang berarti peranakan, rahim ibu, tali perkauman, persaudaraan.
Dari ketiga kamus tersebut tampak terdapat titik temu dengan kata (ar)rohmu yang terdapat dalam kamus Alkalali. Simpulannya bahwa kata rohim(un) yang diserap menjadi rahim dan rohmi (kemudian diserap menjadi rahmi), keduanya bisa berarti rahim. So, kata silaturahmi ataupun silaturahim mempunyai arti sama, yaitu sambungan rahim, tali perkauman, dan tali persaudaraan.
Sekali lagi (kalau masih kurang manteb), dalam kamus Al-Mu’jam al-Wasith—kamus ekabasaha modern yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa Arab Pemerintah Republik Mesir—disebutkan bahwa entri: rahim, rahmi, dan rihmi, ketiganya mempunyai makna: (1) tempat pembentukan janin atau kantung di dalam perut, (2) kerabat beserta penyebabnya. Ketiganya merupakan kata yang bersinonim yang kedudukannya ditempati oleh yang lainnya.

Maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan kata silaturahmi sudah tepat menurut tata bahasa dan etimologi. Sementara silaturahim (dan–bisa jadi–silaturihmi) juga bisa dipakai–tentunya untuk konteks nonformal yang tidak mengharuskan penggunaan kata sesuai dengan EYD.

Tapi jangan pergunakan kata Silaturahmi kepada orang Arab, mereka g bakal paham, karena kata ini tidak pernah digunakan oleh orang Arab sendiri. Namun “Silaturahim” mungkin dapat dimengerti oleh sebagian orang Arab (yang tahu hadist dari Abu Hurairah). Mereka lebih sering menggunakan kata “ziarah” yang artinya berkunjung. Tuh kan beda lagi, di Indonesia kata itu dikhususkan untuk ke kuburan.

Bisa gw ambil kesimpulan bahwa Bahasa Indonesia mengadopsi kalimat “Shilaturrahim” menjadi “Silaturahmi” (mengubah ortografi baku “shad” yg seharusnya “sh” menjadi “s” saja serta huruf “r” ditulis satu saja, bukan dua). Silaturahmi dalam konteks Bahasa Indonesia tetap bermakna shilaturrahim karena sudah dibakukan oleh leksikografi Bahasa Indonesia.

==Silaturahmi merupakan korban dari fenomena fonetis (qadhiah sima’iyah) orang Indonesia belaka==

*MU

 

 
Leave a comment

Posted by on 21 July 2015 in Diary, Islam

 

Tags: ,