RSS

Osteoporosis – The Silent Disesae

01 Jul

Akhirnya kesampaian juga nulis 1st posting. Sudah lama blog ini dibuat tapi baru kali ini sempet nulis posting, yang pertama, dimulai dari tanggal 1 Juli 2012. Yup, semoga istiqomah karena aku bertekat untuk menuliskan catatan harianku sejak saat ini.. just as reminder.. and sebagai ajang sharing aja, siapa tahu bermanfaat.

Osteoporopis – The Silent Disease

Kata osteoporosis sering muncul dalam perbincangan antara diriku dengan Mas Joe, salah satu rekan kerjaku, yang juga teman satu mess. Kami berdua sepakat kalau apa yang kami lakukan setiap harinya jauh dari kata sehat. Ya, setiap hari kerjaan kita adalah duduk di depan laptop dari jam sembilan sampai malam menjelang. Sesekali kami harus “memanjakan” otot kami… ya, kami memilih untuk sholat di musholla yang letaknya terpisah dari gedung tempat kami bekerja, meskipun sebenarnya ada musholla yang dekat dengan “lorong” tempat kami bekerja. Karena suasana di kantor yang tidak memungkinkan untuk “menggerakkan” otot kita, maka kami berrencana membuat jadwal olahraga di mess, tempat tinggal kami.

Layaknya umat manusia yang lain, di awal-awal kami menggebu-nggebu untuk melaksanakan ini, tapi kenyataannya? Terbentur dengan kebiasaan lama, akhirnya rencana tersebut g jadi-jadi. Haha. Setiap sabtu dan minggu kebiasaan kami adalah molor. Mungkin karena capek kali ya, semingguan kerja. Ah, tapi g juga, kami emang malas saja, hahaha. Soalnya kerjaan kami di kantor juga g capek-capek amat, hahaha. Dan akhirnya, Sabtu sore kemaren kami berhasil mewujudkan hal itu. Meski cuma jalan ringan muter-muter kompleks, namun itu sudah lumayanlah buat kami yang notabene jarang banget berolahraga. Esoknya kami bertekat untuk mengulangi hal itu. Seperti biasa, setelah sholat subuh kami berdua molor lagi, hahaha. Awalnya kupikir g jadi, akibat kesiangan. Namun Mas Joe yang sudah bertekat bulat meyakinkanku untuk melakukan hal itu lagi meski waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan!

Di tengah-tengah “perjalanan” kami, di salah satu taman yang ada di kompleks mess kami, ada seorang kakek yang pake kursi roda, berlatih berdiri pada pancang-pancang besi dengan dibantu seorang pemuda. Melihat itu aku berada di antara dua perasaaan. Trenyuh karena melihat perjuangan kakek tersebut untuk bisa berdiri lagi seperti dulu, dan was-was karena bisa jadi kalau tua aku akan seperti itu. Na’udzubillahi mindzalik. “Hantu” osteoporosis kembali membayangiku. Aku akui kalau pola hidupku tidak sehat banget. Jarang olahraga, senin-jumat di kantor yg hanya statis duduk di depan laptop dengan sesekali keluar untuk makan dan sholat. Pulang kerja sama, ngendon di mess kalo g nonton tv, buka laptop lagi, terus tidur. Weekend, apalagi, itulah puncak kemalasan. Tiduran, internetan, nonton film. Pokoknya g sehat banget lah, diimbangi dengan pola makan yang kurang sehat juga. Wuidih.

Melihat sang kakek tadi, aku jadi penasaran tentang osteoporosis. Kali ini aku akan berbagi tentang penyakit ini, yang semoga nanti di masa tua kita tidak “dihinggapi” olehnya.

Osteoporosis berasal dari kata osteo yang berarti tulang, dan porous, yang artinya berlubang-lubang atau keropos. Osteoporosis adalah penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang (Tandra, 2009). Waduh susah amat ya, singkatnya, osteoporosis adalah penyakit akibat tulang yang keropos. Osteoporosis sering menyerang lansia, terutama wanita. Menurut WHO, satu dari tiga wanita mengalami osteoporosis pada usia lanjut. Hal ini dikarenakan wanita mengalami proses kehamilan dan menyusui serta terjadinya penurunan hormon estrogen (hormon utama pada wanita) pada saat pre menopause, menopause, dan pasca menopause (Depkes, 2002). Wow, warning signal nih, buat para wanita.

Penyebab osteoporosis secara umum adalah hilangnya sebagian kalsium dalam tulang. Osteoporosis sering disebut silent disease, karena proses hilangnya kalsium dari tulang terjadi tanpa tanda-tanda atau gejala. Tubuh selalu kehilangan kalsium setiap hari melalui kulit-kulit yang mati, pertumbuhan kuku, rambut yang rontok dan juga keringat. Selain itu kalsium juga terbuang melalui urin dan feses. Kalsium yang hilang tersebut harus diganti setiap hari melalui makanan. Bila makanan kita tidak mengandung cukup kalsium, maka tubuh akan mengambilnya dari cadangan kalsium, yaitu tulang dan gigi (Siswono, 2006). Lebih rinci lagi, penyebab osteoporosis adalah sebagai berikut (Junaidi, 2007):

  1. Osteoporosis pascamenopause, terjadi karena kurangnya hormon estrogen, yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang. Biasanya gejala timbul pada perempuan yang berusia antara 51-75 tahun, tetapi dapat muncul lebih cepat atau lebih lambat. Hormon estrogen produksinya mulai menurun 2-3 tahun sebelum menopause dan terus berlangsung 3-4 tahun setelah menopause. Hal ini berakibat menurunnya massa tulang sebanyak 1-3% dalam waktu 5-7 tahun pertama setelah menopause.
  2. Osteoporosis senilis, kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan antara kecepatan hancurnya tulang (osteoklas) dan pembentukan tulang baru (osteoblas). Keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut (biasanya terjadi pada orang-orang berusia diatas 70 tahun) dan 2 kali lebih sering menyerang wanita.
  3. Osteoporosis sekunder, disebabkan oleh keadaan medis lain atau obat-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal) serta obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, antikejang, dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok dapat memperburuk keadaan ini.
  4. Osteoporosis juvenil idiopatik, merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal, dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

Pada awalnya, osteoporosis tidak menimbulkan gejala, bahkan sampai puluhan tahun tanpa keluhan, sehingga si pesakit sendiri tidak sadar dirinya mengalami osteoporosis sampai ia mengalami retak tulang yang menyakitkan. Namun, lama-kelamaan, seseorang dengan osteoporosis biasanya akan memberikan keluhan atau gejala sebagai berikut: tinggi badan berkurang, bungkuk atau bentuk tubuh berubah, patah tulang, dan nyeri bila ada patah tulang (Tandra, 2009).

Osteoporosis sendiri dapat menyerang siapa pun dengan faktor risiko yang berbeda-beda. Faktor risiko ini dibedakan menjadi dua, yang dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan. Faktor yang dapat dikendalikan biasanya menyangkut gaya hidup seseorang, di antaranya (Waluyo, 2009):

  1. Aktivitas fisik. Seseorang yang kurang gerak, kurang beraktivitas, otot-ototnya tidak terlatih dan menjadi kendor. Otot yang kendor akan mempercepat menurunnya kekuatan tulang.
  2. Kurang kalsium. Kalsium penting bagi pembentukan tulang, jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang.
  3. Merokok. Para perokok berisiko terkena osteoporosis lebih besar dibanding bukan perokok. Nikotin yang terkandung dalam rokok berpengaruh buruk pada tubuh dalam hal penyerapan kalsium oleh tulang. Akibatnya osteoporosis terjadi lebih cepat.
  4. Minuman keras/beralkohol. Alkohol berlebihan dapat menyebabkan luka-luka kecil pada dinding lambung. Dan ini menyebabkan perdarahan yang membuat tubuh kehilangan kalsium (yang ada dalam darah) yang dapat menurunkan massa tulang dan pada gilirannya menyebabkan osteoporosis.
  5. Minuman bersoda. Minuman bersoda (softdrink) mengandung fosfor dan kafein. Fosfor akan mengikat kalsium dan membawa kalsium keluar dari tulang, sedangkan kafein meningkatkan pembuangan kalsium lewat urin.
  6. Stres. Kondisi stres akan meningkatkan produksi hormon stres, yaitu kortisol, yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Kadar hormon kortisol yang tinggi akan meningkatkan pelepasan kalsium kedalam peredaran darah dan akan menyebabkan tulang menjadi rapuh dan keropos sehingga meningkatkan terjadinya osteoporosis.
  7. Bahan kimia, seperti pestisida yang dapat ditemukan dalam bahan makanan (sayuran dan buah-buahan), asap bahan bakar kendaraan bermotor, dan limbah industri seperti organoklorida yang dibuang sembarangan di sungai dan tanah, dapat merusak sel-sel tubuh termasuk tulang. Ini membuat daya tahan tubuh menurun dan membuat pengeroposan tulang.

Sedangkan faktor yang tidak dapat dikendalikan antar lain sebagai berikut:

  1. Jenis kelamin. Kaum wanita mempunyai faktor risiko terkena osteoporosis lebih besar dibandingkan kaum pria. Hal ini disebabkanย  pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun.
  2. Usia. Semakin tua usia, risiko terkena osteoporosis semakin besar karena secara alamiah tulang semakin rapuh sejalan dengan bertambahnya usia. Osteoporosis pada usia lanjut terjadi karena berkurangnya massa tulang yang juga disebabkan menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium.
  3. Ras. Semakin terang kulit seseorang, semakin tinggi risiko terkena osteoporosis. Karena itu, ras Eropa Utara (Swedia, Norwegia, Denmark) dan Asia berisiko lebih tinggi terkena osteoporosis dibanding ras Afrika hitam. Ras Afrika memiliki massa tulang lebih padat dibanding ras kulit putih Amerika. Mereka juga mempunyai otot yang lebih besar sehingga tekanan pada tulang pun besar. Ditambah dengan kadar hormon estrogen yang lebih tinggi pada ras Afrika.
  4. Pigmentasi dan tempat tinggal. Mereka yang berkulit gelap dan tinggal di wilayah khatulistiwa, mempunyai risiko terkena osteoporosis yang lebih rendah dibandingkan dengan ras kulit putih yang tinggal di wilayah kutub seperti Norwegia dan Swedia.
  5. Riwayat keluarga. Jika ada nenek atau ibu yang mengalami osteoporosis atau mempunyai massa tulang yang rendah, maka keturunannya cenderung berisiko tinggi terkena osteoporosis.
  6. Sosok tubuh. Semakin mungil seseorang, semakin berisiko tinggi terkena osteoporosis.ย  Demikian juga seseorang yang memiliki tubuh kurus lebih berisiko terkena osteoporosis dibanding yang bertubuh besar.
  7. Menopause. Wanita pada masa menopause kehilangan hormon estrogen karena tubuh tidak lagi pembentukan tulang dan mempertahankan massa tulang. Semakin rendahnya hormon estrogen seiring dengan bertambahnya usia, akan semakin berkurang kepadatan tulang sehingga terjadi pengeroposan tulang, dan tulang mudah patah.

Pencegahan osteoporosis dapat dilakukan pada usia muda maupun usia produktif. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah osteoporosis (disarikan dari berbagai sumber):

  1. Asupan kalsium cukup. Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dapat dilakukan dengan mengkonsumsi kalsium yang cukup. Minum 2 gelas susu dan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumya tidak mendapatkan cukup kalsium. Sebaiknya konsumsi kalsium setiap hari. Dosis yang dianjurkan untuk usia produktif adalah 1000 mg kalsium per hari, sedangkan untuk lansia 1200 mg per hari. Kebutuhan kalsium dapat terpenuhi dari makanan sehari-hari yang kaya kalsium seperti ikan teri, brokoli, tempe, tahu, keju, dan kacang-kacangan.
  2. Sinar matahari. Sinar matahari terutama UVB membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang. Berjemurlah dibawah sinar matahari selama 20-30 menit, 3x/minggu. Sebaiknya berjemur dilakukan pada pagi hari sebelum jam 9 dan sore hari sesudah jam 4. Sinar matahari membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang.
  3. Melakukan olahraga dengan beban. Selain olahraga menggunakan alat beban, berat badan sendiri juga dapat berfungsi sebagai beban yang dapat meningkatkan kepadatan tulang. Olahraga beban misalnya senam aerobik, berjalan dan menaiki tangga. Olahraga yang teratur merupakan upaya pencegahan yang penting. Tinggalkan gaya hidup santai, mulailah berolahraga beban yang ringan, kemudian tingkatkan intensitasnya. Yang penting adalah melakukannya dengan teratur dan benar.
  4. Hindari rokok dan minuman beralkohol. Menghentikan kebiasaan merokok merupakan upaya penting dalam mengurangi faktor risiko terjadinya osteoporosis. Terlalu banyak minum alkohol juga dapat merusak tulang.
  5. Deteksi dini osteoporosis. Karena osteoporosis merupakan suatu penyakit yang biasanya tidak diawali dengan suatu gejala, maka langkah yang paling penting dalam mencegah dan mengobati osteoporosis adalah pemeriksaan secara dini untuk mengetahui apakah kita sudah terkena osteoporosis atau belum, sehingga dari pemeriksaan ini kita akan tahu langkah selanjutnya.

Tampaknya tagline dari Susu Anlene yang menyarankan 10.000 langkah setiap hari perlu untuk diikuti sebagai langkah memerangi osteoporosis. Kalau misalkan satu langkah kaki manusia kita asumsikan sepanjang 50 cm atau sekitar 0,5 meter, maka 10.000 langkah berarti sama dengan 5000 meter atau 5 km. Wah bukan jarak yang pendek ya. Memang sehat itu tidak mudah. Jadi selagi bisa dan masih muda, ayo rajin olahraga, supaya besok tidak jadi seperti si kakek di taman๐Ÿ™‚

 
Leave a comment

Posted by on 1 July 2012 in Diary, Kesehatan

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: