RSS

Pembekalan BU DIKTI 2012 (2 – Hari Kedua)

06 Jul

Seperti yang aku bilang kemaren bahwa aku sangat menunggu pembekalan hari kedua. Menimba ilmu, sharing pengalaman dengan orang-orang hebat.. Wuih, tak sabar rasanya.  Aku sudah bangun pagi, mempersiapkan semuanya, karena hari ini ada tanda tangan kontrak, maka aku harus menyiapkan kontrak sebanyak 6 rangkap, dan materai sepuluh lembar. Wah, bangkrut ni. Aku estimasi perjalanan sekitar 1,5 jam karena aku berangkat dari Kampung Melayu (tujuan Hotel Millenium, Sirih, dekat Tanah Abang) dan materi dimulai pukul 8.30, maka aku berangkat jam 7 pagi. Kalau sebelumnya aku naik busway dari Kampung Melayu, aku mencoba untuk naik bus, karena kemaren aku lihat ada bus yang lewat persis di depan Hotel Millenium. Kalau baik busway aku harus transit dulu di Harmoni sebelum berhenti di Bank Indonesia. Setelah itu aku harus jalan lumayan jauh sebelum sampe di Hotel. Hah, capek, mending naik bus, lebih irit, cuma 2000 perak plus tidak perlu capek-capek jalan. Lagian kalau naik busway juga nunggu datengnya bus, jadi lama deh. Maka aku putuskan naik bus saja.

Mau ngirit e malah jatuhnya boros. Lho koq bisa? Itu gara-gara aku nyasar! Sebenarnya bus yang ke Tanah Abang ada dua, Kopaja hijau, yang berangkat dari Kampung Melayu ke utara, lewat Matraman, dan yang kedua Bus Kuning yang lewat Casablanca. Yang aku lihat lewat Hotel Millenium itu sebenarnya adalah Kopaja alias Bus Hijau. Namun yang aku tumpangi Bus Kuning! Aku keluar dari Kompleks Gudang Peluru ke Kampung Melayu. Aku tunggu Kopaja g dateng2, adanya yang arah Ragunan dan Lebak Bulus. Oke, nunggu aja. Kemudian muncul tuh bus kuning. Dari pada nunggu plus jalan sampe Kampung Melayu, mending aku naik ini aja. Awalnya aku pikir sama kali ya, kan sama2 ke Tanah Abang, ntar sebelum sampe aku turun karena setahuku Hotel Millenium itu sebelum Pasar Tanah Abang. Tapi ternyata salah! Sampe daerah Tanah Abang aku liyat-liyat mana ya Hotel Millenium, plus koq rutenya beda ya, aku belum pernah lewat sini. Mampus pikirku, nyasar-nyasar deh. Dan ternyata benar. Waktu si kondektur bilang abis-abis-abis (maksudnya udah sampe tujuan akhir), aku benar-benar menyadari kalau aku telah nyasar. Memang benar itu Pasar Tanah Abang, tapi bukan itu yang aku cari. Aku jalan memutar karena pikirku Hotel Millenium letaknya sebelum Pasar. Hah, capek plus spekulasi, akhirnya aku naik ojeg. Awalnya dia bilang 20, waduh , apaan, aku pikir deket, aku tawar setengah, 10, dia langsung mau, dasar, tahu gitu aku tawar 7 atau 8. Ternyata Hotel Millenium ada di “seberang” alias berlawanan dari jalur bus tadi. Waduh.. mau ngirit malah jadi boros😦.

Akhirnya aku sampe pukul setengah sepuluh. Dan aku ketinggalan materi yang aku tunggu, Plagiarisme, dari Prof. Tarkus. Waa…. Padahal itu materi bagus karena ketika studi di Indonesia pasti kita telah melakukan plagiarisme, dengan sadar atau pun tidak. Alhasil aku mendapatkan materi Wawasan Kebangsaan (kedua) ketika aku datang. Hedeh … Karena udah g mood di awal (gara-gara kejadian nyasar tadi), maka ya udah, jadi g niat deh ikut materi ini. Berbeda dengan materi wawasan kebangsaan sebelumnya, kali ini kita diminta berdiskusi (dibagi per kelompok) untuk membicarakan masalah yang ada di Indonesia, namun masih terkait dengan frase yang ada di lagu Indonesia Raya. Mungkin karena aku orang teknik kali ya, jadi ketika diminta berretorika dan berfalsafah aku tidak begitu tertarik. Lagian (maaf) kami sekelompok sepakat kalau diskusi semacam ini tidak ada hasilnya ketika tidak langsung ada follow-up nya. Materi ini sampai jumatan! Lama amat ya, padahal aku udah bosan setengah mati, hehehe.

Setelah jumatan, materi dilanjutkan dengan pemaparan dari Bank. Ini nih, tentang duit, hal yang sensitif, terutama menyangkut kami para penerima beasiswa, yang notabene pasti “kere”, hahaha. Untuk BU, BNI menjadi bank “penyedia uang”, sedangkan BLN mendapatkan Bank Mandiri. Karena Bank Mandiri belum datang, dan untuk mempersingkat waktu, maka yang BU dipersilakan keluar ruangan untuk mendapatkan arahan dari BNI (yang didalam ruangan BLN). Kami diminta mengisi formulir seperti ketika membuat rekening baru (misalkan kami udah mempunyai rekening BNI, kami tetap haru membuat baru). Kami juga tidak mendapatkan Kartu ATM dan Buku Tabungan. Jadi nanti prosesnya begini. Setelah kita sampai di Luar Negeri tempat kita akan belajar, kita diharuskan membuka rekening Bank di Luar Negeri. Setelah itu, kita diminta mengirimkan via email, nomor rekening Bank Luar Negeri kita ke DIKTI. Setelah itu, BNI via perintah dari DIKTI akan mentransfer dana kita (yang tercantum di Letter of Guarantee) ke nomor rekening kita. Hah, ribet ya. Jadi kita tidak akan dapat uang saku pas berangkat. Semua akan dilakukan setelah kita ada di luar negeri. Jadi harus bawa uang tunai yang banyak tuh…

Pas kita (penerima BU) keluar ruangan, yang di dalam mendapatkan materi tentang penyetaraan ijazah. Dan setelah kita masuk, di layar tertulis kata “Terima Kasih”. Yah, udah g dapet materi deh. Namun intinya, semua yang ada di situ sudah “hampir” pasti ijazahnya dapat disetarakan. Karena yang ada di situ sudah lolos “saringan” yang telah dilakukan DIKTI sebelumnya. Jadi hampir tidak ada masalah sebelumnya. Hanya yang universitas dan program studinya belum pernah disetarakan, membutuhkan waktu yang agak lama, sekitar satu minggu dalam proses penyetaraan ijazah.

Selanjutnya adalah pemaparan dari Bank Mandiri. Karena tadi Bank Mandiri belum ada (pas kita yang BU mendapatkan pengarahan dari BNI), maka setelah materi Penyetaraan Ijazah, maka yang masuk adalah Bank Mandiri. Dan tentu saja karena ini bukan “bagian” dari kami, penerima BU, jadi ya, info-infonya tidak begitu berguna, hanya saja yang menarik adalah beberapa perdebatan tentang uang. hahaha. Maklum, pada dosen kebanyakan sudah pernah mengenyam pendidikan di luar negeri. Jadi tahu bagaimana susahnya berkompromi dengan yang satu ini, uang.

Lanjut materi terakhir adalah penandatanganan kontrak (sesi terakhir). Kita diminta tanda tangan sebanyak 6 rangkap untuk masing-masing Surat Penugasan/SPK (Surat Perintah Kerja) dan BAP (Berita Acara Pembayaran). Dan yang paling aneh adalah kita diminta tanda tangan di atas materai pada kertas polos rangkap 5. Katanya dari Kementrian Keuangan prosedurnya sudah seperti itu. Jadi ya mau gmana lagi. Bilangnya si g akan diapa-apain. Takut kalau nanti di atas kertas putih tersebut diisi sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Selesai itu, kita diberi SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas), yang nantinya harus ditandatangani dan distempel oleh instansi “homebase” kita. Kalau aku karena nanti akan ditempatkan di UNDIP, maka yang harus tanda tangan adalah Dekan atau Rektor. Setelah itu, sebelum berangkat, SPPD itu harus diberikan ke DIKTI. Kemudian DIKTI akan mengganti dengan SPPD baru. SPPD baru tersebut kemudian harus dimintakan stempel ke Kedutaan atau Konjen setelah kita sampai di luar negeri. Kemudian, SPPD yang sudah distempel Kedutaan/Konjen, beserta Boarding Pass harus dikirimkan ke DIKTI via pos (biar aman, scannya juga dikirim ke DIKTI).

Kesan pada hari kedua lebih “spesial” karena sudah berkumpul dengan “teman-teman” seperjuangan. Sebelumnya kami semua (BU dan BLN) dicampur jadi satu, jadi kita tidak tahu mana yang BU mana yang BLN, tahu si tapi cuma sebagian. Setelah semua kumpul (ketika pengarahan dari BNI) jadi ketahuan deh, siapa-siapa yang termasuk BU. Ada sekitar 17an nama yang berhasil di-“jaring”. Yang ke Korea cuma dua, aku sama Mbak Vita, yang ke Asia lagi ada Rizka (ke Univ. of Tokyo, Jepang), yang ke Eropa ada Dede (Paul Sabatier Univ., Perancis), Dita & Reza (Univ. of Duisburg, Essen, Jerman), Alfian (Univ. of Freiburg, Jerman), Mas Fuad (Erasmus Univ. of Rotterdam, Belanda), Santi (Hull-Utrecht (Inggris-Belanda), Inggris yang paling favorit, ada Devi (Westminster), Dana (Nottingham), Nela (Birmingham), Cindy (Univ. College London), Ibad (Imperia College London), Arcel (Edinburg), dan Vilda (Bedfordshine). Dan satu lagi di Australia, Ryan (Univ. of Technology Sydney). Wuidih keren-keren ya.. g kebayang gmana kalau mereka balik ke Indonesia dan membangun negeri kita🙂.

 
Leave a comment

Posted by on 6 July 2012 in Beasiswa, Diary

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: