RSS

Ru`yah Hisab … ?

20 Jul
sumber gambar: voa-islam.com

sumber gambar: voa-islam.com

Kamis malam kemaren menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Hal ini dikarenakan tadi malam berlangsung sidang isbath yang akan menentukan kapan umat Islam akan memulai berpuasa Ramadhan. Di Indonesia, seperti sudah cukup banyak diketahui, penentuan satu Ramadhan sering kali diwarnai dengan perbedaan pendapat, terutama oleh dua organisasi Islam terbesar di Indonesia: Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Dua organisasi Islam ini menggunakan dua pendekatan yang berbeda dalam menentukan hilal atau bulan baru, yang menandakan dimulainya hari baru dalam bulan pada sistem penanggalan/kalender Hijriyah. Muhammadiyah menggunakan sistem Hisab (perhitungan) sedangkan Nahdlatul Ulama menggunakan sistem ru`yah (melihat).

Berbeda dengan penanggalan Masehi yang menggunakan patokan Matahari dalam menentukan awal bulan sampai awal tahun, dalam sistem penanggalan Hijriyah, penentuan awal bulan baru dilakukan dengan melihat bulan (hilal). Seperti dalam pelajaran IPA waktu SD, pada setiap tanggal 1 bulan Hijriyah, bulan akan mulai terlihat, meski sangat kecil dan samar. Kemudian seiring dengan bertambahnya hari, keadaan bulan akan berangsur-angsur nampak, biasanya sampai tanggal 8 Hijriyah bulan akan terlihat berbentuk seperti sabit (bulan sabit). Dari tanggal 9 sampai tanggal 12, penampakan bulan akan menjadi separo (bulan separo), dan tanggal 13-15 akan menjadi bulan purnama. Kemudian lepas tanggal 15, bulan akan berangsur-angsur tidak nampak. Mulai dari kembali menjadi bulan separo, bulan sabit, sampai benar-benar hilang pada akhir bulan.

Nah, seperti disinggung di atas, dalam menentukan awal bulan, berbagai metode telah digunakan, dua yang populer adalah Hisab dan Ru`yah. Apa si sebenarnya Hisab dan Ru`yah ini. Aku akan me-repost alias menuliskan kembali dari Notes-ku di Facebook, hehehe. Males nulis lagi maksudnya.


Dewasa ini dikotomi antara Ru`yah dan Hisab sungguh tidak relevan lagi, kata salah satu Profesor bidang astronomi dari LAPAN. Ya, hal ini dikarenakan kedua metode ini saling melengkapi satu sama lain. Lah, bagaimana caranya? Hisab merupakan metode penentuan kalender Hijriyah berdasarkan perhitungan astronomi, sedangkan Ru`yah merupakan metode penentuan kalender Hijriyah berdasarkan penglihatan astronomi.

Menurut Q.S. Yunus: 5 yang merupakan dalil naqli tentang metode hisab, berbunyi, “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).” Sedangkan Menurut H.R. Muslim, yang merupakan dalil naqli tentang metode ru`yah, berbunyi “Berpuasalah kamu sekalian karena melihat bulan (awal Ramadhan). Dan berbukalah kamu sekalian karena melihat bulan (Idul Fitri). Bila hilal tertutup awan di atasmu, maka genapkanlah ia menjadi tiga puluh hari.”

Kalau kita lihat dua nash ini saling melengkapi. Mengapa? Hisab memberikan PETUNJUK kapan akan dilakukan Ru`yah, sedangkan Ru`yah akan memberikan VALIDASI bahwa Hisab benar. Misalkan tidak ada Hisab, bagaimana jadinya, apakah setiap Malam akan ada pengamatan bulan.. untuk tahu besok sudah ada bulan baru apa belum? Makanya Hisab memberikan petunjuk kapan akan dilakukan Ru`yah,, misalkan dengan Hisab dinyatakan besok tanggal 1, maka ya sore pada saat matahari terbenam seyogyanya dilakukan Ru`yah. Dan dengan Ru`yah lah proses Validasi metode Hisab dinyatakan. Apakah perhitungan itu benar saat dilakukan penglihatan?

Pada zaman Rasulullah, memang semuanya menggunakan metode Ru`yah karena pada saat itu kondisi alam sangat memungkinkan, masih bisa melihat bulan dengan mata telanjang dikarenakan atmosfer masih cerah dan belum ada kerusakan. Selain itu, di Arab kondisi saat malam sangat mendukung, di mana tidak ada awan tebal yang menggulung sehingga cahaya bintang dan bulan dapat dengan mudah terlihat. Sedangkan pada saat sekarang, kondisi sudah sangat berbeda, di mana atmosfer sudah sangat buruk dan lapisan ozon sudah bolong-bolong, maka sangat sulit untuk melihat hilal dengan mata telanjang, sehingga dibutuhkan bantuan berupa teropong atau binokular.

Apakah hisab bisa salah? dan apakah Ru`yah bisa salah?

Menarik sekali. Dan jawabannya adalah IYA. Hisab hanyalah perhitungan atau ramalan, maka dibutuhkan Ru`yah sebagai validasi untuk penglihatan atau ramalan itu. Sedangkan Ru`yah juga bisa salah, misalkan terdapat awan tebal yang menutupi penglihatan sehingga bulan alias hilal tidak nampak, atau ada benda-benda lain di angkasa yang cahayanya serupa dengan hilal, misalkan satelit yang bergentayangan di angkasa.

Kemudian bagaimana kita menyikapinya?  Kalau menurut hemat saya, semua metode yang “pengusung” salah satu metode pasti mempunyai dasar hukum yang kuat, sangat kuat bahkan. Dan pastilah orang-orang pintar dengan ilmunya berada di belakang itu semua. Jadi, mengikuti salah satu dari metode itu tidaklah salah, ASALKAN kita mantab di dalamnya. Hati kita harus mantab dan tidak ada keragu-raguan. Soalnya ketika keragu-raguan sudah muncul dalam hati kita, maka semua perbuatan yang menyertainya juga akan gimana gitu, hehehe, berbeda bila hati kita telah mantab.

Wallahu a’lam bish showab

 
Leave a comment

Posted by on 20 July 2012 in Diary, Islam

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: