RSS

Istinja` dengan Tisu, Bolehkah?

02 Sep

tisu

Pertanyaan ini sebenarnya sudah agak basi mengingat sekarang hampir semua toilet pada hotel atau tempat umum di Indonesia tidak menyediakan air, tapi hanya tisu. Apakah harga air sangat mahal sehingga mereka menggantinya dengan tisu. Mungkin pernyataan ini bisa masuk ke nalar, namun ketika aku ke Korea, fenomena yang sama aku jumpai. Dan pernyataan itu menjadi g masuk akal, mengingat di sini air menjadi sangat murah (per bulan aku g perlu bayar air, jadi gratis tis tis).

Penggantian air menjadi tisu di toilet ditengarai untuk alasan kepraktisan dan kemudahan. Tisu dianggap lebih “kering” karena tidak akan membasahi pakaian. Mereka yang tidak suka akan “kebasahan” tentu saja akan mengamininya. Lebaynya seperti ini, bayangkan setelah keluar dari kamar mandi dan buru-buru, g punya waktu untuk “mengeringkan”, maka pada bagian (maaf) pantat akan (kalau orang Jawa bilang) nembelong atau berbekas karena air masih menempel pada area tersebut. Itu ekstrim si.

Dalam Islam, Rasulullah s.a.w. mengajarkan untuk beristinja` dengan air (yang lebih utama) atau dengan batu minimal tiga buah. Aku tidak akan membahas panjang lebar hal ini karena sudah banyak sumber yang membahasnya secara terperinci disertai dengan dalil-dalil yang menjanjikan. Di sini aku hanya akan secara ringkas menggambarkan bagaimana keadaan yang ada di Korea.

Di Korea, urinoir (tempat kencing bagi lelaki yang terbuat dari porselen yang hanya berbentuk cerukan kecil) hanya sebatas urinour, tidak ada tisu dan air hanya merembes ke tempat kencing, bukan memancar, seperti yang biasa ada di Indonesia. Ketika ada air memancar, paling g kita para lelaki bisa membasuh kemaluan kita dengan air yang memancar itu. Di sini, para lelaki setelah buang air kecil mereka (maaf) tidak pernah membasuh kemaluannya. Padahal bisa saja masih ada air kencing yang tersisa di ujung kemaluan. Mereka (male korean people) langsung memasukkan kemaluannya ke dalam celana, segera setelah buang air kecil. Walhasil celana dalam dapat terrembes air kencing dan otomatis celana dalam terkena najis. Dan tidak sah untuk sholat. Namun itu tidak mengapa bagi mereka karena mereka bukan Islam.

Then bagaimana dengan kita? Di saat urinoir tidak menyediakan air sama sekali (untuk membasuh), bahkan tisu juga g ada. Strategiku ketika buang air kecil adalah masuk ke bilik toilet, di sana pasti ada tisu, or kalo misalkan habis g ada tisu, ya carilah bilik yang menyediakan tisu. Atau bisa juga pake cara ini, bawa gelas atau botol kosong, isi dengan air di wastafel, bawa masuk ke toilet. Aku di awal-awal kedatangan di Korea melakukan hal ini, karena masih g nyaman beristinja` dengan tisu.

Bagaimana dengan buang air besar? Ini yang gila! Meskipun hukum menggunakan tisu untuk beristinja` itu diperbolehkan, tapi kebayang g sob kalau cebok pake tisu? Dan di sini terjadi, tempat sampah di samping kloset isinya kebanyakan adalah tisu bekas cebok buang air besar, jadi masih ada sisa t*i-nya gitu, sumpah, mau muntah rasanya ngeliyat itu. Lha mau gimana lagi, g ada air, adanya tisu. Untuk ini terus terang aku masih g berani melakukan. Untung di kampus ada kloset dengan sistem flush yang mampu menyemburkan air, jadi kalau mau buang air besar ya pilih di bilik tersebut. Kalau di College of Engineering, Kyung Hee, hanya toilet lantai 3 sebelah kiri dan 4 sebelah kanan yang ada flush-nya. Itu pun hanya satu bilik di antara lima sampe 6 bilik. So kalau misal mau buang air besar dan ternyata bilik itu ditempatin, mending “menunda” dan menunggu sampai kosong, hehehe.

Untuk hukum istinja` dengan tisu, meskipun diperbolehkan aku nyaranin tetep pake air karena air adalah asal untuk menyucikan najis. Imam Al-Syaukani mengatakan air secara syar’i menyifatinya sebagai benda yang suci. Tidak dapat dipindahkan kepada selainya, kecuali ada ketetapan yang sah darinya. Jika tidak ada, maka tidak boleh menggantinya. Karena hal itu termasuk berpaling dari sesuatu yang sudah dimaklumi kesuciannya kepada sesuatu yang belum dimaklumi kesuciannya. Hal itu berarti keluar dari jalur syariat. Pendapat ini  masyhur dikalangan madzhab Malik, Ahmad, dan al-syafi’i dalam qaul jadidnya. Pendapat ini juga didukung oleh imam Al-Syaukani dan orang-orang yang mengikutinya.

Untuk yang prefer dengan tisu, sah menyucikan dengan segala benda yang dapat menghilangkan najis dan tidak disyaratkan air. Ini adalah pendapat dari kalangan madzhab Hanafi, satu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad serta Imam Al-Syafi’i dalam qaul qadimnya. Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah, dan Syaikhul Utsaimin berpendapat dengannya. Dan oleh Syaikh Abu Malik Kamal bin al-Sayyid Salim dalam Shahih Fiqih Sunnah. Tapi perlu diingat bahwa jangan beristinja` dengan hal-hal berikut:

  • Kotoran hewan.
  • Benda-benda yang najis.
  • Tulang karena dia adalah makanan bangsa jin.
  • Dikiaskan kepadanya makanan manusia.
  • Benda yang bisa membahayakan tubuh.
  • Benda yang tidak bisa menyerap air.
  • Benda yang mempunyai kehormatan, semisal kertas-kertas yang berisi ajaran agama.

Ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’ ditanya, “Di Inggris, kami menggunakan kertas atau tisu ketika istinja di WC. Apakah diwajibkan menggunakan air setelah memakai tisu tersebut atau tidak?”

Mereka menjawab, “Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, keluarga dan para shahabatnya. Dibolehkan menggunakan tisu atau kertas dan semacamnya dalam membersihkan najis dan dianggap sah serta cukp jika dapat membersihkan bagian yang terkena najis, baik qubul maupun dubur. Yang utama dalam hal ini adalah menggunakannya dengan ganjil, dan seharusnya tidak kurang dari tiga usapan. Tidak diwajibkan menggunakan air sesudahnya, akan tetapi sunnah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kami Muhammad, beserta keluarga dan para shahabatnya.”

Syekh Abdul-Aziz bin Abdullah bin Baz, Syekh Abdurrazzaq Afifi, Syekh Abdullah Ghudayyan, Syekh Abdullah bin Quud. (Fatwa Lajnah Da’imah, 5/125)

Wallahu a’lam bish showab.

 
2 Comments

Posted by on 2 September 2012 in Diary, Islam, Korea, Korean's Life

 

Tags: , , ,

2 responses to “Istinja` dengan Tisu, Bolehkah?

  1. fidah

    5 September 2014 at 00:22

    Assalamualaikum. .. Terima kasih penulisan yg santai tetap rapat dengan realiti. Saya ingin utarakan pendapat melalui pengalaman saya ke korea mahupun Beijing. .. sebelum ini sy jg tak boleh terima istinja’dengan menggunakan tisu atau selain air… di ngara beriklim sejuk memang terlalu sukar untuk menggunakan air. Kami pelancong drp Malaysia membawa Botol untuk tujuan itu tetapi rupa2nya percikan air terus membeku dan mengakibatkan permukaan lantai menjadi terlalu licin serta membahayakan, sejak itu saya dapat terima penggunaan tisu walaupun sy blm pernah menggunakannya.🙂

     
    • Mujiya Ulkhaq

      22 September 2014 at 16:00

      terima kasih sudah mau berkunjung

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: