RSS

Cara Duduk Tahiyat Awal dan Tahiyat Akhir

08 Sep

dudukSejak kecil aku telah diajarkan sholat oleh kedua orang tuaku. Di sekolah (baik sekolah umum maupun madrasah) aku diajari lagi oleh guruku mengenai sholat, tata caranya, syarat sahnya, rukunnya, sunnahnya, batalnya, dan beberapa hal lain yang berkaitan dengan sholat. Hal menarik yang akan aku bahas di sini adalah mengenai cara duduk dalam sholat (tahiyat awal dan tahiyat akhir). Mengapa aku bahas hal ini? Ini terkait dengan perbedaan cara duduk dalam tahiyat awal dan tahiyat akhir yang aku lihat ketika aku shalat jumat di Korea (berbeda dengan lazimnya di Indonesia).

Di Indonesia, lazimnya adalah pada saat tahiyat awal, kita akan melakukan duduk iftirasy (lihat gambar) dan ketika tahiyat akhir kita akan melakukan duduk tawarruk (lihat gambar). Namun hal ini tidak berlaku bagi masyarakat belahan dunia lain. Orang Pakistan, Bangladesh, serta orang Timur Tengah lainnya setahuku ketika mereka tahiyat awal maupun akhir tetap melakukan duduk iftirasy. Ketika melihat ini pada shalat Jumat kemarin (semua jamaah melakukan hal ini), aku kemudian bertanya-tanya apakah pengajaran di sana berbeda, apa perbedaanya, apakah ada dasar hukumnya melakukan hal yang demikian.

Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini, dan seperti biasa, kalau ada perbedaan semacam ini, semua pasti punya dasar hukum masing-masing.

Pendapat Pertama: Pendapat Imam Malik. Beliau mengatakan, bahwa dianjurkan untuk duduk tawarruk dalam setiap keadaan duduk dalam shalat, apakah pada tahiyat awal, atau terakhir, dan pada duduk diantara dua sujud. Dan tidak ada perbedaan antara duduk tersebut, sebagaimana tidak ada perbedaan pula antara duduk laki-laki dan duduk wanita. Pendapat ini salah satunya didasari pada hadits dari Abdullah bin Mas’ud r.a.

عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّشَهُّدَ فِي وَسَطِ الصَّلاَةِ وَفِي آخِرِهَا قَالَ فَكَانَ يَقُولُ إِذَا جَلَسَ فِي وَسَطِ الصَّلاَةِ وَفِي آخِرِهَا عَلَى وَرِكِهِ الْيُسْرَى

Rasulullah s.a.w mengajarkan tahiyat kepadaku dipertengahan shalat dan di akhirnya. Lalu berkata, “Rasulullah s.a.w berkata, ‘Jika duduk dipertengahan shalat dan di akhir shalat (duduk) di atas warik (bagian atas paha/pantat)-nya yang kiri…” ‘ (H.R. Ahmad dalam Al-Musnad: 1/459).

Pendapat Kedua: Pendapat Imam Hanafi dan para pengikutnya, dan juga pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Hasan bin Shaleh, Abdullah bin Mubarak. Mereka mengatakan bahwa dianjurkan duduk iftirasy pada semua keadaan duduk, baik duduk diantara dua sujud, maupun tahiyat yang pertama dan terakhir. Ini berkenaan tentang duduk laki-laki. Adapun duduk wanita, maka dia duduk dengan cara yang paling mudah baginya. Pendapat ini salah satunya didasari pada hadits dari ‘Aisyah r.a.

وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Adalah beliau (Rasulullah s.a.w) mengucapkan tahiyyat pada setiap dua raka’at, dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy).” (H.R. Muslim: Bab Maa Yajma’u Shifatas Shalaah: 1/498).

Pendapat Ketiga: Pendapat Imam Ahmad dan para pengikutnya, dan juga pendapat Dawud dan Ishaq bin Rahuyah. Mereka mengatakan bahwa berbeda antara shalat yang memiliki satu tahiyat dengan shalat yang memiliki dua tahiyat. Adapun shalat yang memiliki satu tahiyat maka duduknya sama dengan cara duduk diantara dua sujud, yaitu dengan iftirasy, adapun bila shalatnya memiliki dua tahiyat, maka pada tahiyat pertama dengan cara iftirasy, sedangkan yang kedua dengan cara tawarruk. Dan ini merupakan pendapat yang paling masyhur dari Imam Ahmad. Dalam riwayat Al-Atsram menyebutkan bahwa Imam Ahmad menyebutkan secara nash tentang bolehnya duduk tawarruk pada tahiyat yang dia mengucapkan salam padanya dari shalat dua raka’at, namun beliau mengatakan bahwa duduk iftirasy lebih afdhal.

Pendapat Keempat: Pendapat Imam Syafi’i dan para pengikutnya. Mereka mengatakan bahwa duduk yang bukan duduk akhir, dengan cara iftirasy, sedangkan duduk yang dilakukan pada tahiyat akhir, dengan cara tawarruk. Dan tidak ada perbedaan antara shalat yang memiliki dua tahiyat ataupun satu tahiyat. Dan pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hazm. Pendapat ini salah satunya didasarkan pada hadits dari Abu Humaid As-Sa’idi.

فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ

“Dan apabila baginda duduk pada raka’at kedua (tahiyat awal), maka baginda duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirasy), dan jika beliau duduk pada raka’at terakhir, maka beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan, dan duduk di atas tempat duduknya (duduk tawarruk) “. (H.R. Bukhari)

Pendapat Kelima: Pendapat At-Thabari, yang mengatakan bolehnya memilih cara duduk yang mana saja yang dia inginkan yang ada dalilnya dari Rasulullah s.a.w. Dan Ibnu Abdil Barr lebih condong kepada pendapat ini, sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya At-Tamhid.

Dari kelima pendapat tersebut kita tahu mengapa ada perbedaan antara duduk tahiyat awal dan akhir. Namun, aku pernah membaca bahwa pendapat pertama (Imam Malik) dan pendapat kedua (Imam Hanafi) adalah keliru, dan yang lebih tepat adalah pendapat keempat (Imam Syafi’i), bahwa kita harus membedakan antara duduk tahiyat awal (duduk iftirasy) dengan duduk tahiyat akhir (duduk tawarruk), seperti pendapat Abul Ula Al-Mubarakfuri,  Ibnu Hazm, dan Adz-Dzahabi. Namun aku bukanlah kapasitasnya dalam membenarkan dan menyalahkan, apalagi itu adalah pendapat dua imam besar (mazhab) di mana mereka adalah rujukan dalam bertanya seputar hukum Islam. Aku di sini hanya memaparkan, sebatas memberitahu bahwa ada perbedaan mengenai cara duduk tahiyat. Jadi jangan kaget misalkan ada orang di sebelah kita melakukan duduk tahiyat dengan cara yang berbeda dengan kita.

 
2 Comments

Posted by on 8 September 2012 in Diary, Islam

 

Tags: , , , , , , , ,

2 responses to “Cara Duduk Tahiyat Awal dan Tahiyat Akhir

  1. dya

    17 September 2013 at 23:53

    ass..
    sya mau bertanya, smisal ada teman dket sya untuk du2k iftirasy/twaruk kaki sblah kanan tdk tegak.
    apa hukumnya?

     
  2. esagenang

    20 September 2013 at 20:04

    Yup, saya juga mengalami pengalaman yang serupa😀

    sekarang ini saya sedang study di Australia, dan ketika pertama kali saya sholat Jumat di sini, saya kaget, karena pas duduk rakaat terakhir, hampir semua jama’ah duduknya seperti duduk di antara 2 sujud, sementara saya sepertinya merasa menjadi satu-satunya orang yang duduknya miring :p

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: