RSS

Belajar Bahasa Korea (3 – Sistem Romanisasi)

12 Sep

Sebelum kita belajar bahasa Korea, alangkah baiknya kita mengenal yang namanya sistem romanisasi atau latinisasi. Apa itu romanisasi atau latinisasi? Mungkin ada yang sudah tahu, dan mungkin banyak juga yang belum tahu. Oke, mari kita bahas di sini.

Sistem romanisasi merupakan sistem “pe-latin-an” dari suatu sistem penulisan non-latin. Kita tahu kalau aksara Latin (a,b,c,…z) merupakan sistem penulisan yang biasa digunakan dalam bahasa di dunia ini. Bahasa Inggris, Indonesia, Melayu menggunakan aksara Latin secara patuh, sedangkan bahasa semacam Jerman, Perancis, Spanyol, Italia, dsb menggunakan aksara Latin dengan beberapa tambahan diakritik dan digraf. Contohnya dalam bahasa Jerman dikenal diakritik diaresis (dalam bahasa Jerman disebut “umlaut”) yang berupa titik dua di atas huruf a,u,o (¨), yang akan menjadi ä,ö,ü. Karena huruf ä,ö,ü tidak ada dalam aksara Latin, maka di-romanisasi menjadi ae,oe,ue. Jadi kamu bisa menuliskan ae untuk menggantikan ä. Hal yang sama juga terjadi di bahasa Perancis, Spanyol, dan beberapa bahasa roman lainnya.

Nah, bagaimana untuk bahasa yang tidak menggunakan aksara Latin? Kita tahu ada banyak bahasa yang tidak menggunakan aksara Latin, seperti bahasa China, Jepang, Arab, India, Rusia, dan tidak ketinggalan Korea. Sistem aksara dalam bahasa ini selanjutnya akan diubah ke dalam aksara Latin untuk memudahkan pengajarannya kepada foreigner (orang asing). Ingat di sini hanya untuk memudahkan pelafalan yang ditujukan kepada orang asing. Jadi jangan harap kamu bisa menuliskan bahasa Korea dalam tulisan Latin dan menyodorkannnya kepada orang Korea asli untuk menanyakan di mana bisa membeli hanbok (eodi hanbogeul sal su isseoyo)

Kita harus tahu kalau pengajaran bahasa untuk native speaker berbeda dengan foreigner. Mereka tidak diajari kalau (misalnya) 가 itu ditulis “ga” dalam aksara Latin, mereka hanya dikasih tahu itu bunyinya “ga/ka”. Banyak orang Korea yang tidak mengerti aksara Latin. Beneran lho. Sering aku ketemu terutama orang tua (ajumma dan ajossi) yang tidak tahu tulisan Latin, membaca pun susah, apalagi buat nulis. Jadi, perlu diingat kalau romanisasi adalah untuk memudahkan pelafalan foreigner yang mau belajar. Untuk berkomunikasi terutama tulisan kepada orang Korea kita tetap harus menggunakan huruf Hangul asli, bukan tulisan Latin berbahasa Korea.

Ada beberapa sistem romanisasi terkait bahasa Korea. Ada tiga macam sebenarnya yang sering digunakan, yaitu: McCune-Reischauer Romanization, Yale Romanization, dan Revised Romanization of Korea.

McCune-Reischauer

Sistem romanisasi ini ditemukan oleh dua orang Amerika Serikat (George M. McCune dan Edwin O. Reischauer) pada tahun 1937. Sistem ini digunakan bukan untuk menerjemahkan Hangul, namun untuk merepresentasikan pengucapan fonetis-nya. Namun, sistem ini baru diadopsi oleh Korea Selatan pada tahun 1984 setelah 47 tahun diciptakan.

Contoh:

  • 부산  = Pusan
  • 먹다 = mŏkta
  • 연락 = yŏllak
  • 먹는군요 = mŏngnŭn’gunnyo
  • 않다 = ant’a

Sistem ini kemudian dinilai membingungkan karena banyak lambang aspirasi (‘) dan diakritik, seperti ˘ di atas huruf o (melambangkan fon ɔ) dan ¨ di atas huruf e (melambangkan fon ɘ). Oleh karena itu, Pemerintah Korea Selatan melalui Kementrian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata, merevisi sistem ini dan menggantinya menjadi Revised Romanization of Korea pada tanggal 7 Juli 2000. Sejak ini praktis sistem McCune-Reischauer tidak dipakai lagi di Korea Selatan.
Oleh karena itu, dalam posting mengenai belajar bahasa Korea berikutnya, kita tidak akan menggunakan sistem romanisasi McCune-Reischauer.

Yale Romanization

Sistem romanisasi yang berikutnya adalah Yale, yang dikembangkan oleh Universitas Yale untuk empat bahasa Asia Timur: Mandarin, Kanton, Jepang, dan Korea. Sistem romanisasi Korea diciptakan oleh Samuel Elmo Martin. Sistem ini menitikberatkan pada struktur morfofonemik suatu kata, yang membedakannya dengan dua sistem romanisasi lainnya. Sistem ini tidak pernah diakui secara resmi dan digunakan oleh Pemerintah Korea Selatan, namun penggunaannya luas oleh para linguis. Hal ini dikarenakan struktur morfofonemik dari suatu kata tidak bisa “dijangkau” oleh dua sistem romanisasi yang lain, sehingga lebih memudahkan dalam pelafalan.

Contoh:

  • 내 = na ‘y
  • 별로 = pel ‘lo
  • 걷다 = keTda
  • 걸어요 = keTe/a yo

Revised Romanization of Korea (국어의 로마자 표기법)

Sistem romanisasi inilah yang saat ini digunakan secara resmi oleh Pemerintah Korea Selatan (sejak 7 Juli 2000) untuk menggantikan sistem McCune-Reischauer. Sistem ini dirasakan lebih mudah dan konsisten, karena hanya menggunakan alfabet Latin (berdasarkan ISO basic latin alphabet) dan menghilangkan diakritik dan lambang aspirasi yang dirasa membingungkan.

Contoh:

  • 부산  = Busan (menggantikan Pusan)
  • 먹다 = meokda (menggantikan mŏkta)
  • 연락 = yeollak (menggantikan yŏllak)
  • 먹는군요 = meongneungunyo (menggantikan mŏngnŭn’gunnyo)
  • 않다 = anda (menggantikan ant’a)

Dalam posting selanjutnya yang berkenaan dengan belajar bahasa Korea, akan digunakan sistem romanisasi ini, karena sistem inilah yang digunakan secara resmi di Korea Selatan. Namun ingat bahwa sistem ini bukan sistem yang fonetis, jadi belum tentu huruf latinnya menggambarkan pengucapannya. Misalkan “먹디” (makan) ditulis “meokda”, bukan berarti membacanya juga meokda, namun “eo” di sini dibaca o (seperti dalam kata monyong). Nanti kita akan belajar lagi lebih detailnya.

 
Leave a comment

Posted by on 12 September 2012 in Bahasa Korea, Diary, Korea

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: