RSS

Lentog Tanjung – Makanan Khas Kudus

30 Aug

20130830_060925Hmm… melihat gambar di samping mungkin kesan pertama adalah, ini apaan, atau ini makanan model apa. Bisa jadi g kebayang ini makanan macam apa, rasanya gimana, atau komposisinya apa, kecuali… bagi yang pernah datang ke Kabupaten Kudus, kkk. Iyap, ini adalah salah satu kuliner khas Kudus, dinamakan Lentog (atau ada yang menyebut Lentog Tanjung). Bagi yang sudah pernah datang ke Kudus namun belum pernah mencoba lentog Kudus, wuidih, bakalan nyesek. Namun bagi yang belum pernah datang ke Kudus dan bela-belain datang ke sini hanya untuk nyobain Lentog, wuidih, bakalan nyesel, kkk (g deng bercanda).

Di posting kali ini aku akan mencoba mempromosikan masakan khas kota kelahiranku, Kudus. Berkesempatan pulang ke Indonesia dan pastinya ke Kudus, tidak lupa mampir ke kedai salah satu makanan yang “diburu”: Lentog. Mungkin Kudus terkenal dengan Kota Kretek (g nyambung dengan makanan), atau Jenang Kudus, atau mungkin Soto Kudus, atau malah Garang Asem. Namun keberadaan makanan yang satu ini (Lentog) tidak begitu dikenal khalayak, karena memang setahuku susah untuk menemukan Lentog di luar Kudus, kalau Soto Kudus kan mungkin sudah banyak kali ya di kota-kota besar, tapi Lentog? Okelah, hanya orang Kudus mungkin yang tahu.

Nama “Lentog” berasal dari kata “pulen” dan “montog”, eh beneran, ini mungkin g banyak yang tahu, kkk. Ini merujuk pada “lontong” bahan dasar dari lentog. Lontong yang digunakan berbeda dengan lontong-lontong kebanyakan, karena ukurannya yang sebesar betis orang dewasa alias montog, plus lontongnya yang pulen, sehingga muncullah nama Lentog. Sedangkan Tanjung merupakan nama daerah dimana lentog ini mulai dikenal masyarakat. Jadi awalnya lentog dibuat di desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati dan hanya dijual di sekitar daerah tersebut. Salah satu pembuat lentog yang terkenal adalah Pak Sekar (Alm). Katanya beliau si pencipta lentog, tapi ini harus diverifikasi lagi kebenarannya. Jadi kalau misal beli Lentog, kemudian ada tulisan “Putra Pak Sekar” nah si penjual ini berarti “menjual” nama bapaknya.

penjual-lentog-300x202

sumber gambar: rbaskoro.blog.binusian.org

Nah, desa Tanjung Karang ini sekarang sudah ramai dengan para penjual lentog. Seperti terlihat di gambar bahwa banyak penjual lentog yang berjejeran menjajakan lentog. Tidak hanya di desa Tanjung Karang, lentog sekarang bisa dinikmati di mana saja (lebay). Biasanya di pinggir-pinggir jalan besar atau pun kecil bisa ditemukan penjual lentog. Lentog biasanya dinikmati sebagai menu untuk sarapan, jadi para penjual lentog ini biasanya mulai buka dari habis subuh (sekitar jam 5 pagi) sampai sehabisnya, biasanya jam 9 atau jam 10 sudah habis. So, kalau mau makan lentog, jangan datang kalau sudah siang, ntar kehabisan, hahaha.

Seperti sudah aku singgung di atas, bahan dasar lentog adalah lontong yang pulen dan montog, kkk. Selain itu, ada sayur kotho’an, mungkin pada g tahu apa kotho’an itu, tetapi ketika dikatakan sayur lodeh, mungkin semua pada tahu. Namun kotho’an menurutku tidak sama dengan sayur lodeh, ya mirip tapi beda, kkk. Si lontong disiram dengan kuah kotho’an plus ada tahu dan tempe (kadang cuma tahu doang). Kemudian ada sayur gori (nangka muda), semacam gudeg lah ya, seperti itu. Kadang juga disiram dengan kuah opor sehingga terasa manis. Lentog kemudian disajikan di atas piring yang dialasi daun pisang serta ditaburi bawang goreng, wuih sedep dah. Kalau mau pedes, ada sambal cair, eh apa ya sebutannya, g tahu deng, pokoknya semacam sambal tapi cari (bukan berbentuk saus), ada airnya, berwarna merah, dan ada cabe rawitnya, hmmm, ngiler lagi dah gw.

Selain tampilannya yang sederhana, untuk memakannya juga tidak menggunakan sendok (aslinya), namun menggunakan suru (sendok dari daun pisang). Tapi kalau g bisa pake suru, ada koq sendok, kkk. Meski tampilannya sederhana, namun rasanya menggugah selera untuk nambah lagi, karena porsinya memang tidak terlalu banyak. kkk. Piringnya kecil cuy, biasanya si satu orang bisa 2-3 piring or maybe more, hahaha. Untuk lauk pelengkapnya, ada sate telur puyuh yang dimasak pindang (yang berwarna cokelat itu lo), lalu ada gorengan (biasanya bakwan) dan khas orang Indonesia: kerupuk. Kuliner yang satu ini memang cukup sederhana, harganya juga sangat bersahabat, hanya Rp 2.000 sudah bisa mendapatkan satu porsi lentog. Murah kan.

Silakan mampir di Kudus dan menikmati kuliner khas Kudus yang satu ini: Lentog ^_^

inyati-300x225

lentog-300x201

 
1 Comment

Posted by on 30 August 2013 in Diary, Kuliner, Travelling

 

Tags: , , , ,

One response to “Lentog Tanjung – Makanan Khas Kudus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: