RSS

Jajan Pasar yang Dirindukan [3]

17 Feb

Nex Chapter, setelah menyelesaikan posting yang pertama dan kedua, mari lanjut lagi proyek kita, hehehe. Maklum, edisi masih kangen dengan masa kecil kalau pagi-pagi pergi ke pasar buat nyari jajanan. Kalaupun enggak ke pasar, kadang ada mbak-mbak jualan yang biasanya mampir ke rumah-rumah, hehehe. Kali ini ada bubur (candil, sumsum, dan mutiara), kue bugis/mendut, carang gesing, klenyem/lempok a.k.a. misro, cenil, dan kue cucur.

Bubur Candil; Sumsum; dan Mutiara

12. Bubur [Sumber Gambar (1) (2) (3)]
Silakan berdebat ini termasuk jajan pasar atau enggak, but menurutku excluding bubur merupakan hal yang keterlaluan, hahaha. asal ngomong. Wah pagi-pagi makan bubur itu sesuatu, kkk. Bukan bubur ayam yang aku maksud di sini, tapi bubur tradisional, semacam bubur candil, bubur sumsum, dan bubur mutiara. Kalau bubur ayam mah itu bukan jajan pasar, kkk (eh iya ya, g tahu deng, lagi pula aku g begitu suka bubur ayam). Bubur candil kalau di daerah asalku disebut bubur intil (eits, jangan berpikiran jorok). Khas dari bubur ini adalah adanya “bola”-“bola” kenyal yang terbuat dari tepung ketan (disebut candil). Di daerah lain, ada yang menyebut dengan biji salak (karena wujud fisiknya yang seperti biji salak). Rasa candilnya sendiri hambar, namun karena ditambah dengan cairan gula merah dan santan kelapa yang gurih, wui, kombinasi yang enak. Karena rasa manis yang dominan, I bet bubur ini berasal dari Jawa Tengah, hehe.
Bubur yang kedua adalah bubur sumsum, atau ada yang menyebut dengan bubur juruh. Bubur yang terbuat dari campuran santan dan tepung beras ini dinamakan sumsum karena memang bentuknya lembek seperti sumsum tulang, sedangkan kalau yang menyebut bubur juruh (baca: juroh) karena buburnya dituang dengan juruh: cairan kental yang terbuat dari gula jawa; kinca. Sama seperti bubur candil, rasa manis masih mendominasi bubur ini.
Kemudian ada bubur mutiara, yang disebut demikian karena memang tampilan fisiknya seperti mutiara, bola-bola dengan ukuran lebih kecil dari candil. Bola-bola kecil ini terbuat dari sagu, sehingga disebut sagu mutiara. Ide baru yang menggabungkan ketiga bubur ini tidaklah buruk. Dengan bubur sumsum sebagai base-nya kemudian ditambah candil dan juga sagu mutiara di atasnya, heum… menambah khazanah kuliner Indonesia.

Resep-Membuat-Kue-Bugis

Kue Bugis/Kue Mendut

13. Bugis/Mendut [Sumber Gambar di sini]
Awalnya aku mengira kalau kue bugis ini berasal dari Makassar karena di sana tinggal suku Bugis, namun ternyata tidak. Coba tanyakan ke orang Makassar mungkin tidak tahu ini kue apa karena di sana tidak ada. Kue Bugis ternyata mempunyai banyak “nama” di beberapa daerah, ada yang menyebut Kue Mendut (di daerah Jawa), Poci-poci (Pemalang), Kue Poci (Cirebon), Koci (Dumai), Sekoci (Jepara), Lapek Bugis atau Lepat Bugis (Padang), dan Kue Unti (Sunda). Dengan berbagai variasi nama, namun wujudnya hampir sama, yang berbeda adalah bahan utamanya dan cara menyajikannya. Ada yang terbuat dari tepung ketan hitam (Padang) dan ada yang dengan tepung ketan putih. Kemudian ada yang isiannya antara campuran parutan kelapa dengan gula putih, ada juga yang gula merah. Ada yang disajikan dengan santan, ada juga yang dimakan begitu saja. Ada yang dibungkus dengan daun pisang ada juga yang dengan plastik. Untuk yang tidak suka rasa manis agaknya tidak cocok makan kue bugis, kkk.

Carang Gesing

Carang Gesing

14. Carang Gesing [Sumber Gambar di sini]
Jajan ini berasal dari Solo (ada yang menyebut dari Jogja) dengan bahan dasar pisang yang dikukus dalam daun pisang. Jika dilihat dari bentuknya, jajan ini mirip dengan nagasari yang biasanya lebih terkenal, akan tetapi sebenarnya bukan nagasari. Pisang dibalut dengan santan dan telur, sehingga terlihat kental dan “mblenyek”. Jangan tertipu dengan tampilannya yang tidak elok, rasanya heum.. sungguh menggoda, kkk (aku penggila pisang, jadi makanan apa pun yang terbuat dari pisang akan aku bilang enak, hahaha).

Klenyem/Lempok/Cemplon/Misro

Klenyem/Lempok/Cemplon/Misro

15. Klenyem/Lempok/Cemplon/Misro [Sumber Gambar di sini]
Klenyem merupakan makanan khas dari Jepara yang terbuat dari singkong yang digoreng dan di dalamnya ada gula merah. Masyarakat Jepara bagian utara menyebutnya dengan Klenyem sedangkan bagian Selatan, termasuk Kudus menyebut dengan Lempok. Mungkin nama ini asing kali ya, namun ketika menyebut nama Misro (yang merupakan singkatan dari Amis di Jero [“amis = manis” dan “jero = dalam” bahasa Sunda]) pasti pada tahu. Iya, Klenyem sama dengan Misro. Kalau di Jogja makanan ini dikenal dengan Cemplon, sedangkan di Jawa Timur disebut Jemblem, dan ada juga yang menyebut dengan Ondol-ondol. Hahaha, lucu ya, berbagai variasi nama untuk menyebut satu benda.

KUE-CENIL-TIGA-WARNA

Cenil/Cetot

16. Cenil/Cetot [Sumber Gambar di sini]
Oke lanjut, sekarang ada Cenil, jajan pasar yang terbuat dari tepung kanji atau ada yang menyebut tepung sagu ini disajikan dengan parutan kelapa dan gula pasir. Rasa dasarnya sebenarnya gurih, namun karena dicampur dengan gula pasir sehingga membuat rasanya menjadi manis. Cenil berbetuk lucu, kaya cacing gitu, kkk dan kenyal-kenyal ketika digigit. Ada sumber yang mengatakan kalau nama cenil diadaptasi dari kata centil, kkk, doesn’t make sense. Karena makanan ini sudah lama banget establishnya, bahkan katanya sejak zaman Majapahit. Sekarang cenil sudah bervariasi dengan diberi pewarna sehingga lebih meningkatkan nilai jual. Kalau di daerahku, makanan ini lebih terkenal dengan nama Cetot, dan biasanya dijual bareng dengan Gethuk Lindri dan Klepon.

cucur

Kue Cucur

17. Cucur [Sumber Gambar di sini]
Kue Cucur merupakan makanan salah satu makanan tradisional yang cukup terkenal. Makanan ini terbuat dari tepung terigu dan tepung beras, ada juga yang mencampur dengan gula Jawa sehingga warnanya menjadi kecoklatan. Kue cucur ini kalau dalam adat Betawi merupakan makanan wajib yang harus dihidangkan dalam acara adat. Kue cucur berbentuk lucu, seperti ufo, kkk, konon untuk membentuk seperti ini dibutuhkan keahlian khusus, katanya susah untuk bisa membuat bentuk kue cucur yang “sempurna”. Rasanya manis, kenyal, gurih, empuk di tengah dan renyah di pinggir.

To be Continued…

 
1 Comment

Posted by on 17 February 2014 in Diary, Kuliner

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

One response to “Jajan Pasar yang Dirindukan [3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: