RSS

Jajan Pasar yang Dirindukan [4]

18 Feb

Ternyata banyak juga ya jajan pasar, tak terasa sudah masuk ke postingan yang keempat, hohoho. Kali ini akan disajikan Clorot, Dadar Gulung, Tiwul, Gatot, Gandos/Kue Pancong, Getuk, Getuk Trio, dan Getuk Lindri.

Clorot/Dumbeg

Clorot/Dumbeg

18. Clorot/Dumbeg [Sumber Gambar di sini]
Mungkin pada banyak yang tidak tahu tentang Clorot, tapi setelah melihat gambar, biasanya akan bilang aaa.. aku pernah lihat ini (mungkin hanya lihat tapi belum pernah makan). Clorot merupakan makanan khas Purworejo, tepatnya dari Kecamatan Grabag. Namun, ada juga yang mengklaim ini berasal dari daerah Lasem, Rembang, tetapi dengan nama yang berbeda, yaitu Dumbeg. Clorot terbuat dari adonan tepung beras dan gula merah yang dikukus. Rasanya manis dan kenyal. Terlihat dari bungkusnya (dari janur/daun kelapa muda) kalau cara membuat Clorot terkesan sulit (memang sulit). “Bungkus” dari Clorot disebut “klongkongan”, yang dibuat melingkar, berulin, dan memanjang. Kemudian tengahnya diisi dengan adonan tepung beras dan gula merah. Cara memakan panganan ini juga cukup uni, yaitu dengan menekan bagian pangkalnya dengan menggunakan jari, kemudian setelah isinya keluar, baru bisa dimakan. Dulu pas aku kecil, pernah dibuatkan mainan dari janur, dengan bentuk fisik seperti klongkongan Clorot kalau dipanjangkan. Jadi janur diulin memutar, kemudian cara memainkannya si janur tersebut “di-clorot” sehingga bisa keluar memanjang. Mungkin seperti itu mengapa namanya Clorot.

Dadar Gulung

Dadar Gulung

19. Dadar Gulung [Sumber Gambar di sini]
Ada yang menyebut kalau Kue Dadar Gulung merupakan panganan khas Malaysia (Bahasa Melayu: Kuih Ketayap; Dialek Sabah: Kuih Lenggang). Dadar Gulung bisa digolongkan sebagai pancake yang diisi dengan parutan kelapa yang dicampur dengan gula Jawa cair. Persis, isi dari Dadar Gulung (yang disebut unti) sama dengan isi dari Kue Bugis. Kulit dadar gulung bisa berwarna hijau karena diberi pewarna daun suji. Sekarang isi dari kue Dadar Gulung sudah bervariasi, ada yang mengisi dengan pisang, ada juga yang mengisi dengan nangka, atau bahkan keju. Kulitnya juga lebih bervariasi, aku pernah menemui Dadar Gulung yang berwarna pink, hoho.

Tiwul dan Gatot

Tiwul dan Gatot

20. Tiwul dan Gatot [Sumber Gambar (1) (2)]
Mungkin sudah banyak yang tahu dengan Tiwul, yang merupakan makanan pengganti nasi. Meskipun kandungan kalorinya lebih rendah daripada beras namun cukup memenuhi sebagai bahan makanan pengganti beras. Tiwul merupakan penganan khas daerah Pegunung Kidul (Gunung Kidul, Pacitan, Wonogiri) yang terbuat dari Singkong. Namun sekarang tampaknya Tiwul sudah tidak lagi menjadi makanan utama, mereka sudah mulai beralih ke nasi (lagi). Tiwul (dan juga Gatot) merupakan varian dari Gaplek (Singkong yang dikeringkan). Menurut penelitian ilmiah, singkong yang telah dikeringkan (dengan proses yang bersih) justru lebih aman dikonsumsi daripada singkong biasa, karena pada saat pengeringan, racun alami pada singkong: Linamarin dan Lotaustralin (sejenis racun Sianida) akan ikut menguap. Wow.
Perbedaan antara Tiwul dan Gatot adalah kalau Tiwul berbahan gaplek yang masih putih, sedangkan Gatot merupakan gaplek yang sudah berwarna hitam. Awalnya memang hanya tiwul yang menjadi makanan pokok namun karena sayang untuk dibuang, Gaplek yang kurang bagus dalam pengeringan (yang berwarna hitam) di fungsikan untuk menjadi satu makanan variannya bernama Gatot. Warna hitam yang terjadi ada yang mengatakan kalau warna tersebut diakibatkan proses fermentasi dari semacam jamur (Kapang) yang tumbuh akibat proses penjemuran yang relatif lama serta disertai proses menhujan-hujankan. Sebagai jajan pasar, Tiwul dan Gatot biasa disajikan dengan parutan kelapa.

690px-Pembuatan_Gandhos

Gandos/Kue Pancong

21. Gandos/Kue Pancong [Sumber Gambar di sini]
Gandos identik dengan abang-abang yang jualan di depan sekolah. Namun sekarang kayaknya sudah semakin jarang terlihat abang-abang penjual Gandos. Apa sudah tidak banyak peminatnya, terus capek karena g profitable, atau memang sudah langka si pembuat Gandos, ah g tahu. Tidak jelas asal-usul dari Gandos, di beberapa daerah juga memiliki nama lain, seperti Kue Pancong (Jakarta), Bandros (Bandung), Rangin (Surabaya), Tratak Jaran (Bojonegoro), dan Daluman (Bali). Gandos yang terbuat dari tepung beras, santan, dan parutan kelapa di dalamnya didominasi rasa gurih. Gandos dibuat dengan cetakan berbentuk setengah lingkaran dengan satu set kadang berisi lima, enam, atau bahkan dua belas.

ㅇㅇ

Getuk dan Getuk Trio

22. Getuk [Sumber Gambar (1) (2)]
Kalau ingat penganan ini, aku jadi ingat salah satu lagu campur sari zaman dulu, nyanyian Manthous, “Gethuk asale saka telo, mata ngantuk iku tambane apa” (Gethuk asalnya dari ketela, mata ngantuk itu obanya apa). Haha, jadi teringat masa lalu. Getuk (dalam bahasa Jawa; Gethuk) merupakan penganan yang bahan utamanya adalah Singkong atau Ketela Pohon. Ada yang mengklaim kalau Getuk berasal dari Kota Magelang. Konon ceritanya dulu kala masa penjajahan Jepang, saat itu beras yang merupakan makanan pokok Indonesia, merupakan barang langka yang sulit di temukan, sehingga penduduk lokal Magelang berupaya menggantinya dengan ketela, yang saat itu banyak terdapat di sekitar rumah dan mudah ditemukan di pasar. Tersebut nama Mbah Ali Mohtar, yang berasal dari Desa Karet, Magelang yang mencoba berinovasi dengan ketela menjadi makanan yang menarik untuk dihidangkan dan tidak membosankan untuk dimakan. Beliau mencoba mengolah ketela dengan cara dikukus kemudian dihaluskan sekedarnya lalu dicampur dengan gula. Dari sanalah konon makanan yang bernama Getuk ini berasal.
Sekarang variasi dari Getuk sudah banyak, bahkan di Magelang yang mengklaim sebagai kota asal-nya Getuk, sudah ada varian Getuk Trio (karena ada tiga warna), yang merah dicampur Gula Jawa, yang putih hanya menggunakan Gula Putih, sedangkan warna lain bisa memakai pewarna. Bedanya dengan Getuk biasanya adalah kalau Getuk Trio tidak menggunakan parutan kelapa dalam penyajiannya, cukup dimakan begitu saja sudah enak koq. kkk. Selain varian Getuk Trio, ternyata ada juga varian lain, yaitu Getuk Kethek dari Salatiga, kkk, ada-ada aja.

Getuk Lindri

Getuk Lindri

23. Getuk Lindri [Sumber Gambar di sini]
Selain dua varian di atas, salah satu varian yang sudah terkenal di masyarakat luas adalah Getuk Lindri. Secara umum, Getuk yang ada di pasaran ada dua macam:

  1. Getuk (biasa): Pada saat singkong sudah masak dan pada waktu suhu masih panas ditaburi potongan-potongan kecil Gula Jawa sehingga berwarna coklat. Tumbukan Getuk ini tidak begitu merata dan bentuknya masih kasar.
  2. Getuk Lindri: Singkong masak digiling halus dengan gula pasir, dibubuhi pewarna makanan dan vanili lalu dicetak kecil-kecil memanjang dan dirapatkan. Bentuk fisiknya serupa dengan mie dengan ketebalan 2 cm dan lebar 4 cm, setelah itu dipotong-potong berbentuk panjang 5 cm.

To be Continued…

 
1 Comment

Posted by on 18 February 2014 in Diary, Kuliner

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

One response to “Jajan Pasar yang Dirindukan [4]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: